[ Narasi ]

Konsisten dengan Politik yang Bermoral

Kemarin bangsa Indonesia telah melangsungkan pesta demokrasi lima tahunan. Sungguh membanggakan karena antusias warga yang luar biasa itu sekaligus menepis tuduhan jika Islam tidak sejalan, bahkan menolak demokrasi.

Proses demokrasi yang telah lama berlangsung di negara ini, bagi saya sebagai da’i di Amerika, tentu merupakan kebanggaan sekaligus modal dalam menyampaikan Islam yang sesungguhnya. Bahwa Islam bukan agama yang asing di hadapan demokrasi. Justeru esensinya demokrasi merangkul “nilai-nilai” keislaman.

Islam dan demokrasi ini sekaligus menjadi sesuatu yang harusnya dibanggakan dan membanggakan bagi bangsa ini. Indonesia menjadi unik karena karakternya yang mampu mengawinkan antara demokrasi dan nilai-nilai agama (Islam). Sesuatu yang banyak negara gagal lakukan, terutama di dunia Islam.

Tapi mungkin yang patut juga dibanggakan adalah bahwa kesadaran politik bangsa Indonesia sekaligus sebagai negara Muslim terbesar dunia, tentu prilaku politik bangsa ini tidak terlepas dari nilai dan norma-norma ajaran Islam. Karenanya karakter politik bangsa ini berlandaskan akhlakul karimah (karakter mulia).

Berbicara tentang akhlak dalam perpoltikan atau politik yang bermoral, tentu banyak hal yang terkait. Tapi saya akan membatasi catatan singkat ini pada beberap hal:

Pertama, bahwa politik Islam itu tidak dibangun di atas hawa nafsu dan kerakusan kekuasaan. Karenanya proses yang berjalan tidak menghalalkan segala cara, termasuk kecurangan dan semacamnya. Kecurangan atau ketidak jujuran dalam proses hanya akan melukai keindahan akhlakul karimah dalam politik Islam itu sendiri.

Hal lain, berbagai hoax dan kebohongan yang kerap dikembangkan di masa kampanye juga menyalahi nilai-nilai akhlakul karimah itu. Runyamnya, seringkali informasi-informasi bohong ini susah untuk diklarifikasi, khususnya di zaman keterbukaan media sosial. Akibatnya, masyarakat yang memang sedang mengalami emosi tinggi, tanpa sadar ikut terlibat dalam penyebarannya.

Kedua, akhlakul karimah dalam politik juga menjaga kita dalam keyakinan dasar bahwa kekuasaan itu adalah milik Allah SWT. Kekuasaan itu diberikan kepada siapa yang dikehendaki dan diambil kembali dari siapa Dia kehendaki. Allah muliakan (dengan kekuasaan itu) siapa yang Dia kehendaki dan hinakan (dengannya) siapa yang Dia kehendaki. Di tangan Allahlah terletak segala kebaikan dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.

Realita itu membangun “karakter imbang” (balance) dalam perpolitikan. Di satu sisi bekerja keras untuk menang. Di sisi lain yakin bahwa kerja kerasnya itu tidak menentukan, hanya penyebab semata. Ketentuan itu tetap ada di tangan yang merajai langit dan bumi.

Ketiga, ketika yang merajai langit dan bumi telah menjatuhkan “ketentuanNya”, atau lazimnya dikenal dengan “takdir” maka dengan sendirinya diterima sebagai keputusan terbaik.

Konsekwensi positif dari keimanan kepada “qadarullah” (ketentuan Allah) di atas menjadikan semua pihak menahan diri dari kekecewaan yang berlebihan. Apalagi pihak yang belum beruntung (menang), sudah pasti merasakan kekecewaan itu. Tapi dengan keimanan kepada ketentuan Allah maka hal tersebut dapat disikapi secara proporsional.

Keempat, akhlakul karimah dalam politik juga menuntut keberanian untuk “membenarkan” kesalahan-kesalahan yang ada dalam prosesnya.


Karenanya jika ada ketidak laziman yang terjadi, kecurangan misalnya, tentu dengan dorongan iman juga kesalahan-kesalahan itu harus diperbaiki. Usaha memperbaiki kesalahan-kesadaran itu bahkan melalui proses hukum sekalipun jika diperlukan.

Politik Islam itu orientasinya adalah “maslahah aammah” (public interest). Bukan kepentingan sempit, perorangan atau kelompok. Bahkan pelaku politik dalam Islam berani mengorbankan kepentingan sempitnya demi kepentingan umum.

Di sinilah saya ingin sekaligus mengingatkan bahwa apapun realitanya (hasilnya) di hari-hari mendatang ini, kedamaian dan ketentraman Indonesia harus didahulukan. Bahwa adanya ketidak sesuaian dalam proses politik itu, jangan sampai justeru mengorbankan kepentingan bangsa dan negara yang lebih besar.

Terakhir, hal lain yang harus dipastikan dalam politik yang berakhlakul karimah adalah aspek dakwahnya. Jangan sampai di satu sisi kita mengaku berpolitik secara Islam (islami), namun di sisi lain justru menampakkan prilaku yang tidak islami.

Percayalah, tantangan dakwah terbesar saat ini bukan Islamophobia. Bukan kebencian dan permusuhan orang lain. Melainkan gagalnya umat ini merepresentasi keindahan Islam dalam kehidupan. Termasuk di dalamnya dalam
menyikapi dunia perpolitikan.

Semoga Allah menjaga bangsa dan negara ini. Memberikan Pemimpin yang diridhoiNya yang mampu menjadi sopir yang mumpuni bagi mobil Indonesia yang mewah dan cantik ini. Amin!

Tanah Betawi, 18 April 2019

~ Shamsi Ali ~
* Putra bangsa di kota New York, AS.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *